Creative economy: format venue semakin kecil, fleksibel dan experience-driven

#Digispace Daily Update

Ada perkembangan menarik dalam industri creative space Indonesia.

The Straits Times melaporkan munculnya micro-cinema seperti Layar Digi di Gading Serpong, termasuk venue berkapasitas hanya 31 kursi yang memanfaatkan ruang di atas minimarket. Perkembangan ini muncul karena keterbatasan layar bioskop, terutama di kota lapis kedua dan wilayah yang belum memiliki banyak cinema.

Di sisi design, Indonesia Design District PIK2 mulai menjadi venue bagi pameran SaloneSatellite Permanent Collection 1998–2026, menampilkan 55 karya dari arsip 415 objek, berlangsung 18 September–18 Oktober 2026 sebagai bagian dari Indonesia Design Week 2026.

Tren yang saya lihat

Creative venue mulai bergerak dari:

Large venue → smaller venue → curated experience

dan:

Space → content → community → commerce

Ini sangat relevan dengan bisnis:

  • event organizer;
  • interior;
  • furniture;
  • hospitality;
  • F&B;
  • exhibition;
  • digital signage;
  • art space;
  • creative community.

Peluang: konsep seperti café + art gallery + retail + event + content studio semakin masuk akal dibanding hanya mengandalkan penjualan F&B.

Leave a Reply

Discover more from Perhimpunan Putera Puteri Kebangsaan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading